Oleh: gusti | Mei 26, 2010

Senyum seorang anak dan ibunya di sebelah masjid…

Senyum seorang anak dan ibunya di sebelah masjid…

Menjadi seorang anak kos di kawasankeputih memang sebuah kepuasan tersendiri, semua fasilitas tersedia disana. Seperti kehidupan saya dahulu. Mau makan, ibu kos sendiri punya warung makan yang masakannya cukup enak bagi perut mahasiswa. Mau minum, melangkah sedikit kedepannya ada warung jus buah lengkap dengan aneka minuman lainnya.

 Namun ada dilema sedikit, di dekat kos ku dahulu terdapat 2 buah mushola dan 1 buah mesjid. Jarak tempuh ketiganya hampir sama. kalau memakai rumus S=V.t, paling sesilih nya 2-4 meter. Kadang lucu juga jika suara speaker TOA dari ketiganya bersahut-sahutan, ada perasaan aneh… namun sudahlah, kemanapun aku pergi insyaAllah berkah…. daripada aku malah tidak kemana-mana karena bingung, akhirnya sholat sendirian.. 

Aku lebih sering memilih masjid putih tersebut untuk sholat berjamaah, walau terkadang aku pun pergi ke mushola jika perasaanku ingin kesana..

Suatu hari ketika aku hendak pergi sholat jum’at ( sengaja hari itu aku pergi lebih awal, ustadzku bilang supaya pahalanya sebesar kerbau) kulihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahunan berlari-lari kecil disekitar masjid. Ditangannya ada sebungkus roti coklat. Dia celingak-celinguk seolah mencari-cari sesuatu. Rasa penasaranku membawaku untuk mengamatinya lebih dekat. Lalu kulihat ia menghampiri dan memeluk seorang pengemis wanita di sebelah masjid.

Pengemis wanita tersebut menyuruh anak itu duduk di dekatnya. Lalu didekapnya lah anak tersebut, dibelai dan dicium kepalanya dengan penuh rasa sayang. Dalam hatiku bertanya, apakah mereka adalah ibu dan anak?Ah.. sepertinya benar…Mereka mungkin sedang mencari makan bersama..

—–

Seusai sholat jum’at siang itu aku menunggu sampai suasana masjid sedikit sepi. Kemudian kucoba mencari tahu apakah anak kecil tadi masih ditempatnya. Ternyata benar, ia dan pengemis wanita itu masih duduk di samping mesjid. Sambil bercengkrama mereka sesekali berterimakasih kepada orang-orang dermawan yang menaruh selembar uang ribuan di mangkuk mereka.

Lalu aku memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya ,”Ibu, adek… mau nasi sayur buat makan siang?”

Mereka saling pandang, lalu sang ibu menjawab, “Injih mas… gelem… matur sembah nuwun mas..”

“Ok.. tunggu sebentar disini ya bu.. saya ambil dulu di sana..” ujarku sambil menunjuk warung nasi dibelakang masjid.

—-

“Ini bu.. ada 5 bungkus.. barangkali nanti ad temannya yang mau tolong dikasihkan ya..” Aku memberikan sekantong plastik berisikan bungkusan nasi.

“Injih mas… Alhamdulillah… barokallah njih mas…” lirihnya..

“nggak apa-apa bu… Oh iya bu, adek ini anaknya? knp tadi nggak disuruh ikut sholat sekalian?” rasa ingin tahuku mengalahkan rasa maluku untuk bertanya.

Lalu sang ibu yang menjawab ; ” Anu mas… ga punya celana panjang, sarungnya juga udah robek, jadi ga bisa dipakai.. jadi katanya lebih enak nemenin mbok e disini..”

Sesaat batinku teriris, otakku memutar seolah-olah aku adalah si anak tersebut.

“Mm.. dia masih sekolah kan bu?” pertanyaan bodoh ini keluar serta merta. entah mengapa kadang kata-kata ku tak bisa dibendung lagi. Pertanyaan bodoh, kenapa bodoh? karena pertanyaan ini, hati sang ibu tersentuh.. dan tangisnya pun tumpah dipinggir jalan itu…

“ng..nggak mas… Saya kepingin lihat anak saya ini kelak bisa kuliah seperti mas-mas yang disini.. tapi ya mau gimana lagi mas..” kata sang ibu tersedu-sedu sambil menutupkan kain ke wajahnya.

Kupandangi anak kecil itu… tidak ada rasa sedih diwajahnya.. wajah itu adalah wajah periang.. dia masih bisa tersenyum mesti sang ibu sudah terisak. Lalu otakku lalu kembali berputar, seolah-olah aku dipaksa merasakan apa yang anak itu rasa sekarang…

“Bu, ini ada sedikit uang.. ambillah.. terserah digunakan buat apa.. Jum’at depan, kalau saya ada rejeki dan ibu mau makan siang disini lagi, saya akan pesan nasi lagi.. insyaAllah” kataku sambil memberikan sisa uang di dalam kantongku.

“ALhamdulillah.. injih mas.. matur seembah nuwun nggih mas… mugi-mugi akeh rejeki ne mas… sekolahe lancar..” sahut sang ibu sambil mendoakanku.

“Aminn.. Assalammu’alaykum..” kataku sambil berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih duduk menikmati teriknya siang itu.

—–

Sesampainya di kamar kos, kubaringkan diriku sejenak di kasur.. kunyalakan kipas untuk menyejukkan badan..

Lalu kupandangi pakaianku, laptop, handphone, dan buku-buku kuliahku… Tak terasa airmataku menitik… dan sayup-sayup kudengar dalam hatiku.. 

Arrahman..

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

 Foto 2

pengemis


Responses

  1. i love u mom….

  2. terenyuh………

    ada gak negara yang gak ada berprofesi sebagai peminta-minta? kalau ada pasti pemerintahnya sangat hebat.

  3. terenyuh………

    ada gak negara yang gak ada berprofesi sebagai peminta-minta? kalau ada pasti pemerintahnya sangat hebat dan rakyat yang penuh dengan berkah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: