Oleh: gusti | Mei 26, 2010

1 Januari 1995…

Hari itu cerah saja, matahari malah tampak lebih terang.. bahkan dihari itu semua tampak tersenyum gembira menyambut tahun baru masehi. Hari itu tanggal 31 Desember 1994, umurku belum 10 tahun, anak-anak seumurku usudah berebut membeli kembang api dan petasan untuk dibuat meriah nanti malam.. mereka sudah membayangkan betapa riangnya dapat membakar kembang api walau sebentar..

Aku duduk disamping ibundaku yang terbaring lemah di rumah sakit. Wajahnya merah sendu menatapku sambil tersenyum hangat.. Ahh.. senangnya mengenang senyuman bunda. Bunda bertanya : “Anakku, jadilah lebih baik setiap tahun ya.. coba, apa yang kamu harapkan di tahun depan?”

Sambil mencium tangannya aku menjawab : “ingin selalu bersama bunda…” BUnda pun tersenyum manis diiringi batuk kecil. Dengan suara yang parau

beliau berujar: “anakku, laki-laki mesti kuat seperti baja, bunda tau hatimu lembut seperti kapas.. tapi engkau mesti berani menghadapi dunia… jangan rapuh ya,.. ”

 “Iya bunda, insyaAllah…”

Kemudian beliau melanjutkan : “Jika engkau kelak diberi kesempatan mencari ilmu, carilah setinggi-tingginya… gunakan untuk membantu orang lain..dan jangan sombong, jadilah orang yang penyabar dan bersahaja, walau hidup kita susah…jangan pernah menyusahkan orang lain ya.. dan jagalah adikmu, sayangilah ia..”

 “iya bunda….”jawabku getir…. tak terasa olehku mataku basah berlinang.

Tapi sengaja kutahan, kutunjukkan muka semangat walau rasa dalam hatiku telah pecah.. Malam itu adalah malam tahun baru yang penuh sejarah… aku pulang kerumah, dan sbelum tidur aku menyempatkan diri menyalakan beberapa kembang api hadiah dari ayahku.. kilau cahaya nya membuatku lupa akan kelamnya malam.. Kulihat beberapa teman berlarian sambil memutar-mutar kembang api ditangan. Senangya….

Pukul 2 malam aku terbangun… riuh gaduh suara orang disekitar rumahku.. Pikirku, alangkah betahnya orang-orang tersebut merayakan tahun baru sampai selarut ini.. Lalu aku mencoba bangun dan melihat ke ruang tengah…

Oh… ternyata juga ramai orang duduk bersila… dan kulihat juga ibundaku sudah pulang dari rumahsakit dan masih terbaring lemah… senyumnya masih sama merekah indah.. bibirnya masih merah, walau wajahnya sedikit pucat..ibundaku masih sangat cantik… Lalu aku duduk di sebelahnya…

kuambil Al-qur’an dan mulai kubaca surah Yaasiin dengan terbata-bata..Kali ini airmataku tumpah tak tertahan… jiwaku terkoyak.. ruh ku seolah tak mau lagi bersama.. namun suara isakku masih kutahan…, sambil ku bergumam : ”

Bunda.. lihatlah… aku dan adikku sudah menjadi orang yang kuat.. tak akan rapuh oleh dunia.., istirahatlah dengan tenang bunda, doa kami selalu untuk bunda…”

 “..”


Responses

  1. Allah memberikan sesuatu pada hambaNya sesuai dengan kemampuan hambaNya.

    ibunda pasti sangat bahagia karena memiliki anak-anak yang kuat dan hebat.

    meski raganya tak mampu menyertai namun cintanya tetap terjaga abadi……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: