Oleh: gusti | Desember 17, 2009

Masihkah ada adil?

Pertentangan antara yang lurus adalah hal yang lumrah dan biasa. Di atas panggung atau di layar kaca, si Jojon atau Komeng yang menimbulkan gelak karena yang lurus dibengkokkan.

Dalam satu adegan, Komeng sebagai hansip bukan hanya tak patuh pada sang Lurah tetapi juga malah mempermainkannya. Etiket pun runtuh, dan penonton tertawa.. Demikian tulis Gunawan Muhammad pada salah satu catatan pinggirnya yang uraiannya saya pinjam.

Lelucon adalah bentuk protes. Marshal Mac Lohan mungkin mengungkapkan ini dalam pidatonya tahun 1969, “Jokes are grievances” : Lelucon adalah keluhan. Sadar atau tidak, kita mengeluh terhadap beban dunia yang rumit, dan kita pun melucu..
Namun rasanya kita juga hidup ditengah-tengah lelucon, ketika keadilan diteriakkan lantang sambil tertawa-tawa kecil dibelakang. Jer basuki mawa beya : kebahagiaan, karena keadilan tegak, dan Memang, ketika keadilan ditegakkan, harus ada yang menjadi korban. Namun ada perbedaan antara korban (sacrifice), serta korban (victim) yang timbul akibat dari tindakan destruktif. Tapi bila sang korban (victim) adalah keterpaksaan, maka akan terus ada peralgojoan, saat dimana kelak si korban akan menjadi algojo pada korban yang lain.. dan korban akan terus ada. Ingat, ketika ospek, seorang mahba yang dipaksa berdandan konyol seperti badut dengan mahkota daun di atas kepalanya akan membatin : Tunggu nanti saat aku menjadi senior..

Bima, dalam tokoh Mahabarata kita ambil sebagai contoh keadilan. Bima bersumpah kelak akan membunuh dan meminum darah Dursasana yang telah mempermalukan Drupadi di balairung perjudian. Dursasana mencoba menelanjangi Drupadi di muka umum dengan tawa kemenangan.
Kita tahu, Durasasana melanggar keadilan. Namun siapa sangka, sebenarnya yang tidak adil paling
dahulu adalah Yudistira,yang kalah bermain judi dan meletakkan putri yang diperistrikannya
itu sebagai benda taruhan. Bima berhasil meminum darah Dursasana, tapi apa yang diperbuat
pada kakaknya, Yudistira..? Ada dua klise, keadilan ditempatkan atas pembalasan dendam dan
nepotisme, bisakah?

Keadilan bisa jadi hanya sebuah ilusi. Sebab, manakah yang lebih perih : Ditindas oleh rezim
penguasa di negeri sendiri, ataukah dijajah oleh negara kapitalis? Hikayat berkata, negara
adidaya dibuat untuk menegakkan keadilan. Lucu,terlalu absolut. Keadilan menghantui kita, ia
mungkin satu-satunya pengertian yang tidak bisa ditertawakan, pada akhirnya. Tetapi amat
sulit menrumuskan itu secara tetap. Pada suatu hari di tahun 1988, Jacques Derrida, seorang
pemikir yang terkadang terasa berolok-olok diundang ke New York dan ia harus berbicara
tentang ” dekonstruksi dan kemungkiinan keadilan”. Hukum bukan keadilan, katanya. Hukum
merupakan hasil kompromi dan kalkulasi. Humkum juga ditulis sebagai teks dan senantiasa
sebagai hasil interpretasi. Sedangkan keadilan tidak begitu. keadilan “berada diluar dan
diatas hukum”.

Rasa keadilan, adalah persoalan pelik yang tidak mudah dirumuskan dan dijawab siapapun,
kecuali para ahli agama yang yakin akan adanya wahyu. Pada zaman wahyu ditampik, diragukan,
ada yang mengatakan bahwa keadilan bermula dari akal budi atau alam. Namun Derrida tidak
menyebutkan wahyu, tidak juga berkata tentang alam dan akal budi, dan ia hanya mengatakan ;
gagasan tentang keadilan adalah sebuah pengalaman tentang yang mustahil.
Tapi keadilan, sesuatu yang selalu luput, seolah-olah sengaja memergoki kita dimana-mana.
Derrida mengesankan seakan-akan keadilan bukan tugas sederhana sehari-hari. Apa yang
menyebabkan kita duduk tidak berdaya di depan hakim yang memasang muka angker, didekat jaksa
yang melotot, dan pengacara yang terasa bosan..? Kenapa kita merasa tidak mampu
menyelesaikan mata rantai penderitaan orang miskin, yang kedapatan mencuri singkong untuk
makan keluarga (yang kelaparan)?

Ada yang mengatakan, dan bisa jadi benar : kita berada dalam sebuah sistem yang menyisihkan
orang miskin. Mereka tidak punya banyak pilihan, baik untuk keamanan maupun kesehatan diri.
Sebab itulah sistem hendak diubah, atau ditumbangkan..
Dan.. bisa jadi keadilan jugalah yang membuat banyak tokoh-tokoh besar hilang entah kemana,
bayi-bayi tak berdosa dibuang dijalanan..serta mahasiswa diskors atau dipenjarakan..dengan
rasa keadilan..betulkah? ataukah hanya mementingkan sebuah ketegasan (seperti kata sebuah
iklan tv), tanpa keadilan???

gusti.., Surabaya, Sept’2006 (tulisan ini bingung mau dikirim kemana… soalnya dibuat dalam keadaanbingung….) akhirnya diterbitin di Openmind Magazine……….:))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: