Oleh: gusti | Maret 6, 2008

Aku dalam dadamu…

hidup semakin asing bagiku, sementara luka terus bergerak
dari pedalaman paling purba. bersamamu, rindu menjelma abu.
dan resah menguap seperti embun tercium matahari.
duka yang abadi dalam setiap desahh nafas angin mengirim
baitbait puisi untuk kunikmati bersama secawan resah dari
gelasmu.

ada yang mencipta patahan-patahan huruf dari ribuan puisi
yang membentur dindingdinding kamar yang membatu. aku
mencintai sepi, katamu. dan engkau pun menjelma sunyi dalam
dadaku.


Responses

  1. mas ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: