Oleh: gusti | Juni 8, 2010

Why Israeli Terrorist kill childrens ?

 Because they want to kill one of the best generation in the world

 

Gaza Child Victim

=======================================================

Bodies of Palestinians killed during Israel’s offensive are seen in the morgue of Shifa hospital in Gaza City January 15, 2009. Israeli tanks and artillery pounded the city of Gaza on Thursday in the most relentless shelling in nearly three weeks of fighting, despite some signs of progress in international efforts to bring about a ceasefire.[Pictures by REUTERS]
=======================================================

The body of Arej al-Remilat, killed during Israel’s offensive, is carried by a relative during her funeral in Beit Lahiya in the northern Gaza Strip January 15, 2009. Israeli forces pushed deeper into Gaza city on Thursday and unleashed their heaviest shelling of its crowded neighbourhoods in three weeks of war, stepping up pressure on Islamist Hamas as both sides weighed a ceasefire.
[Pictures by REUTERS]
========================================================

A wounded Palestinian boy is carried into Shifa hospital during Israel’s offensive in Gaza City January 15, 2009. Israel unleashed its heaviest shelling of Gaza’s crowded neighbourhoods on Thursday, hitting a U.N. compound and a media building in what might be a final push against Hamas before a ceasefire deal.
[Pictures by REUTERS]
========================================================

A local U.N. worker looks at a fire at the U.N. compound after it was struck by Israeli fire in Gaza City January 15, 2009. Israel unleashed its heaviest shelling of Gaza’s crowded neighbourhoods on Thursday, hitting a U.N. compound and a media building in what might be a final push against Hamas before a ceasefire deal.
[from Reuters Pictures by REUTERS]
========================================================

The bodies of Palestinian babies 4-month old baby Areej Armerad, and her 18-month old sister Baraa, who were killed in Israeli army operation are carried out of the morgue during their funeral in Beit Lahiya, northern Gaza Strip, Thursday, Jan. 15, 2009. Israeli forces shelled the United Nations headquarters in the Gaza Strip on Thursday, setting the compound on fire as U.N. chief Ban Ki-moon was in the area on a mission to end Israel’s devastating offensive against the territory’s Hamas rulers. Ban expressed “outrage” over the incident.[from AP Photo by FADI ADWAN]

from ; http://gazanews.wordpress.com/photos/

Bagaimana jika kita jadi ayah mereka? atau ibu mereka?

tell me if you are  father or their mother? what will you do?

Senyum seorang anak dan ibunya di sebelah masjid…

Menjadi seorang anak kos di kawasankeputih memang sebuah kepuasan tersendiri, semua fasilitas tersedia disana. Seperti kehidupan saya dahulu. Mau makan, ibu kos sendiri punya warung makan yang masakannya cukup enak bagi perut mahasiswa. Mau minum, melangkah sedikit kedepannya ada warung jus buah lengkap dengan aneka minuman lainnya.

 Namun ada dilema sedikit, di dekat kos ku dahulu terdapat 2 buah mushola dan 1 buah mesjid. Jarak tempuh ketiganya hampir sama. kalau memakai rumus S=V.t, paling sesilih nya 2-4 meter. Kadang lucu juga jika suara speaker TOA dari ketiganya bersahut-sahutan, ada perasaan aneh… namun sudahlah, kemanapun aku pergi insyaAllah berkah…. daripada aku malah tidak kemana-mana karena bingung, akhirnya sholat sendirian.. 

Aku lebih sering memilih masjid putih tersebut untuk sholat berjamaah, walau terkadang aku pun pergi ke mushola jika perasaanku ingin kesana..

Suatu hari ketika aku hendak pergi sholat jum’at ( sengaja hari itu aku pergi lebih awal, ustadzku bilang supaya pahalanya sebesar kerbau) kulihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahunan berlari-lari kecil disekitar masjid. Ditangannya ada sebungkus roti coklat. Dia celingak-celinguk seolah mencari-cari sesuatu. Rasa penasaranku membawaku untuk mengamatinya lebih dekat. Lalu kulihat ia menghampiri dan memeluk seorang pengemis wanita di sebelah masjid.

Pengemis wanita tersebut menyuruh anak itu duduk di dekatnya. Lalu didekapnya lah anak tersebut, dibelai dan dicium kepalanya dengan penuh rasa sayang. Dalam hatiku bertanya, apakah mereka adalah ibu dan anak?Ah.. sepertinya benar…Mereka mungkin sedang mencari makan bersama..

—–

Seusai sholat jum’at siang itu aku menunggu sampai suasana masjid sedikit sepi. Kemudian kucoba mencari tahu apakah anak kecil tadi masih ditempatnya. Ternyata benar, ia dan pengemis wanita itu masih duduk di samping mesjid. Sambil bercengkrama mereka sesekali berterimakasih kepada orang-orang dermawan yang menaruh selembar uang ribuan di mangkuk mereka.

Lalu aku memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya ,”Ibu, adek… mau nasi sayur buat makan siang?”

Mereka saling pandang, lalu sang ibu menjawab, “Injih mas… gelem… matur sembah nuwun mas..”

“Ok.. tunggu sebentar disini ya bu.. saya ambil dulu di sana..” ujarku sambil menunjuk warung nasi dibelakang masjid.

—-

“Ini bu.. ada 5 bungkus.. barangkali nanti ad temannya yang mau tolong dikasihkan ya..” Aku memberikan sekantong plastik berisikan bungkusan nasi.

“Injih mas… Alhamdulillah… barokallah njih mas…” lirihnya..

“nggak apa-apa bu… Oh iya bu, adek ini anaknya? knp tadi nggak disuruh ikut sholat sekalian?” rasa ingin tahuku mengalahkan rasa maluku untuk bertanya.

Lalu sang ibu yang menjawab ; ” Anu mas… ga punya celana panjang, sarungnya juga udah robek, jadi ga bisa dipakai.. jadi katanya lebih enak nemenin mbok e disini..”

Sesaat batinku teriris, otakku memutar seolah-olah aku adalah si anak tersebut.

“Mm.. dia masih sekolah kan bu?” pertanyaan bodoh ini keluar serta merta. entah mengapa kadang kata-kata ku tak bisa dibendung lagi. Pertanyaan bodoh, kenapa bodoh? karena pertanyaan ini, hati sang ibu tersentuh.. dan tangisnya pun tumpah dipinggir jalan itu…

“ng..nggak mas… Saya kepingin lihat anak saya ini kelak bisa kuliah seperti mas-mas yang disini.. tapi ya mau gimana lagi mas..” kata sang ibu tersedu-sedu sambil menutupkan kain ke wajahnya.

Kupandangi anak kecil itu… tidak ada rasa sedih diwajahnya.. wajah itu adalah wajah periang.. dia masih bisa tersenyum mesti sang ibu sudah terisak. Lalu otakku lalu kembali berputar, seolah-olah aku dipaksa merasakan apa yang anak itu rasa sekarang…

“Bu, ini ada sedikit uang.. ambillah.. terserah digunakan buat apa.. Jum’at depan, kalau saya ada rejeki dan ibu mau makan siang disini lagi, saya akan pesan nasi lagi.. insyaAllah” kataku sambil memberikan sisa uang di dalam kantongku.

“ALhamdulillah.. injih mas.. matur seembah nuwun nggih mas… mugi-mugi akeh rejeki ne mas… sekolahe lancar..” sahut sang ibu sambil mendoakanku.

“Aminn.. Assalammu’alaykum..” kataku sambil berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih duduk menikmati teriknya siang itu.

—–

Sesampainya di kamar kos, kubaringkan diriku sejenak di kasur.. kunyalakan kipas untuk menyejukkan badan..

Lalu kupandangi pakaianku, laptop, handphone, dan buku-buku kuliahku… Tak terasa airmataku menitik… dan sayup-sayup kudengar dalam hatiku.. 

Arrahman..

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

 Foto 2

pengemis

Oleh: gusti | Mei 26, 2010

1 Januari 1995…

Hari itu cerah saja, matahari malah tampak lebih terang.. bahkan dihari itu semua tampak tersenyum gembira menyambut tahun baru masehi. Hari itu tanggal 31 Desember 1994, umurku belum 10 tahun, anak-anak seumurku usudah berebut membeli kembang api dan petasan untuk dibuat meriah nanti malam.. mereka sudah membayangkan betapa riangnya dapat membakar kembang api walau sebentar..

Aku duduk disamping ibundaku yang terbaring lemah di rumah sakit. Wajahnya merah sendu menatapku sambil tersenyum hangat.. Ahh.. senangnya mengenang senyuman bunda. Bunda bertanya : “Anakku, jadilah lebih baik setiap tahun ya.. coba, apa yang kamu harapkan di tahun depan?”

Sambil mencium tangannya aku menjawab : “ingin selalu bersama bunda…” BUnda pun tersenyum manis diiringi batuk kecil. Dengan suara yang parau

beliau berujar: “anakku, laki-laki mesti kuat seperti baja, bunda tau hatimu lembut seperti kapas.. tapi engkau mesti berani menghadapi dunia… jangan rapuh ya,.. “

 “Iya bunda, insyaAllah…”

Kemudian beliau melanjutkan : “Jika engkau kelak diberi kesempatan mencari ilmu, carilah setinggi-tingginya… gunakan untuk membantu orang lain..dan jangan sombong, jadilah orang yang penyabar dan bersahaja, walau hidup kita susah…jangan pernah menyusahkan orang lain ya.. dan jagalah adikmu, sayangilah ia..”

 “iya bunda….”jawabku getir…. tak terasa olehku mataku basah berlinang.

Tapi sengaja kutahan, kutunjukkan muka semangat walau rasa dalam hatiku telah pecah.. Malam itu adalah malam tahun baru yang penuh sejarah… aku pulang kerumah, dan sbelum tidur aku menyempatkan diri menyalakan beberapa kembang api hadiah dari ayahku.. kilau cahaya nya membuatku lupa akan kelamnya malam.. Kulihat beberapa teman berlarian sambil memutar-mutar kembang api ditangan. Senangya….

Pukul 2 malam aku terbangun… riuh gaduh suara orang disekitar rumahku.. Pikirku, alangkah betahnya orang-orang tersebut merayakan tahun baru sampai selarut ini.. Lalu aku mencoba bangun dan melihat ke ruang tengah…

Oh… ternyata juga ramai orang duduk bersila… dan kulihat juga ibundaku sudah pulang dari rumahsakit dan masih terbaring lemah… senyumnya masih sama merekah indah.. bibirnya masih merah, walau wajahnya sedikit pucat..ibundaku masih sangat cantik… Lalu aku duduk di sebelahnya…

kuambil Al-qur’an dan mulai kubaca surah Yaasiin dengan terbata-bata..Kali ini airmataku tumpah tak tertahan… jiwaku terkoyak.. ruh ku seolah tak mau lagi bersama.. namun suara isakku masih kutahan…, sambil ku bergumam : “

Bunda.. lihatlah… aku dan adikku sudah menjadi orang yang kuat.. tak akan rapuh oleh dunia.., istirahatlah dengan tenang bunda, doa kami selalu untuk bunda…”

 “..”

FSSS (Furnace Safeguard Supervision System)
( Boiler )

  •         Burner Management: The control of the burner oil gun and ignition process.
  •         Burner Management: To prevent the burning flame in boiler furnace from extinguishing.
  •         Boiler Safeguard: Preventing explosion or implosion of the boiler due to over-pressure etc.
  • Boiler Safeguard: The surveillance and control measures of the automation system.

FSSS consist of two types of system: Burner Management System and Furnace Safeguard Supervision System. The design of FSSS system is accord with US standards, NFPA8502 National Fire Protection Association Standard and other relevant technical standards.

BMS (Burner Management System)

  •         Burner oil gun and ignition process (Start/Stop Sequence Control)
  •         Pulverized-Coal combustion control (Start/Stop Sequence Control)
  •         Pulverized-Coal Machine Control System

FSS (Furnace Safety System)

  •         Comply with the NFPA8502 standards.
  •         Burner blow/purge
  •         Oil fuel system leakage test
  •         Emergency Trip (MFT (Master Fuel Trip) /OFT (Oil Fuel Trip) Function

Safeguard and Supervision :

  •         To monitor the continuous operation of the boiler
  •         To produce Oil Fuel Trip (OFT) or Master Fuel Trip (MFT) signal rapidly and accurately.
  •         Though hardwire logic, carry out the relevant protection action for OFT/MFT signal.
  •         To put the emergency trip signal to BMS system and finish corresponding protection action.
  •         When MFT occurs, to keep the air intake of the boiler, removes the flammable object in the burner, hearth. Before satisfying relevant permitting conditions, prevent the fuel from entering the burner.
  •         Manual MFT trip function.
  •         Automatic record and display the “Tripping Reason”.

MainPartsofRecoveryBoiler.jpg

A modern recovery boiler consists of heat transfer surfaces made of steel tube; furnace-1, superheaters-2, boiler generating bank-3 and economizers-4. The steam drum-5 design is of single-drum type. The air and black liquor are introduced through primary and secondary air ports-6, liquor guns-7 and tertiary air ports-8. The combustion residue, smelt exits through smelt spouts-9 to the dissolving tank-10.

Oleh: gusti | Mei 19, 2010

Boiler adalah Perebus :P

Apa sih Boiler?

There are so many definitions available. From Wikipedia :

A boiler is a closed vessel in which water or other fluid is heated. The heated or vaporized fluid exits the boiler for use in various processes or heating applications

Tetapi di sini kita perlu melihat lebih ke subjeknya. Tepat apa yang dimaksud dengan ungkapan “mendidih“? Untuk studi ini kita harus mempertimbangkan tiga dasar wujud zat: padat, cair dan gas. (A plasma, yang dihasilkan ketika atom dalam gas menjadi terionisasi) Dalam keadaan padat, setiap zat terdiri dari banyak molekul terikat erat bersama-sama oleh gaya tarik menarik antara mereka.  Ketika molekul ini menyerap energi panas,artinya tingkat kenaikan molekul dan  jarak antara molekul meningkat.  Efek dari perubahan panas yang signifikan ini membuat setiap molekul mempunyai pergerakan yang independent, sehingga gaya tarik menarik pun berkuran. Hal inilah yang kita sebut mencair.

Semakin banyak panas yang diberikan pada sebuah cairan, beberapa molekul mendapatkan energi yang cukup untuk keluar dari permukaan cairan, sebuah proses yang disebut penguapan.
(Dimana jika ad cairan tumpah di permukaan, maka secara bertahap akan hilang). Apa yang terjadi selama proses penguapan adalahdikarenakan beberapa molekul berpindah pada temperatur cukup rendah, tetapi karena suhu yang naik menjadi panas terjadi lebih cepat dan pada titik tertentu sehingga cairan tersebut menjadi sangat gelisah, dan dengan jumlah besar gelembung mulai naik ke permukaan. Pada saat itu cairan dikatakan mulai ‘mendidih’. Hal ini disebut proses perubahan bentuk cair ke uap, yang merupakan perubahan cairan ke dalam keadaan gas.

Oleh: gusti | Desember 17, 2009

Ibu bermata satu dan anaknya

Alkisah si ibu bermata satu yang mempunyai seorang anak laki-laki.

Ketika anak laki-lakinya pergi sekolah SD, si ibu datang ke sekolah untuk melihat2 anaknya. Tapi apa yang terjadi, si anak laki-lakinya jadi malu karena diolok-olok oleh teman-teman, karena dia mempunya ibu bermata satu. Sesampai di rumah si ibu dimarahin oleh si anak. Sejak itu si ibu tidak dibolehkan ketemu orang-orang lain agar si anak tidak malu.

Setelah anaknya dewasa, si anak telah bekerja dan sukses, dan sudah berkeluarga dan mempunyai istri yang cantik dan anak2 yang lucu…. si ibu rindu ingin ketemu dengan anak dan cucunya. Sesampai di depan pintu rumah anak laki-lakinya, dia diusir oleh anaknya sendiri, seraya berkata: untuk apa kamu datang kesini orang tua bermata satu, kamu telah menakutkan anak-anakku, kata si anak. Akhirnya, si ibu pulang dengan bersedih hati. Dia akhirnya hanya melihat cucu2nya di depan pagar, lalu perlu.

Sekian lama waktu berlalu, si ibu akhirnya sakit dan sepertinya tidak akan lama lagi umurnya. Dia memberi tahukan berita ini kepada anak laki-lakinya itu, bahwasanya dia sedang sakit parah. Tapi, si anak laki2 tetap tidak mau ketemu ibunya. Ajalnya pun menjemputnya.

Selang beberapa waktu, si istri dari si anak laki2 bertanya ke suaminya: mengapa kamu tidak datang ke rumah ibumu?
Dia menjawab: saya sedang sibuk. Tapi akhirnya, dia dibujuk oleh istrinya, agar pergi ke rumah ibunya tersebut sekali saja karena ibunya sudah tiada.

Akhirnya si anak laki2 pergilah ke rumah almarhum ibunya, dia masuk ke rumah yang telah lama dia tinggalkannya, dan ada secarik kertas yang ditinggalkan oleh ibunya berisi: “anakku, aku sangat bahagia melihatmu dari kecil, sampai dewasa dan mlenjadi sukses sekarang ini. ketahuilah nak, bahwasanya kamu kecil hanya mempunyai mata satu, aku telah merelakan mata yang satu lagi diberikan kepadamu, agar kamu bisa hidup bahagia nantinya”.

Si anak akhirnya, menanggis sijadi-jadinya: oh..ibu………….maafkan aku selama ini.

—————-renungan—————————-:

Kawan, kita terkadang tidak begitu memahami masa lampau atau kejadian yang menimpa kita.. Namun kita sangat enak sekali menyalahkan orang atau mencari kambing hitam atas ketidaksempurnaan dan kesalahan yang kita perbuat.

Islam mengajarkan kita untuk selalu berprasangka baik, dan juga sabar.. Dan manusia adalah tempatnya salah dan lupa.  Jadi, kenapa kita mesti malu mengakui kelemahan kita??  toh sebenarnya kehinaan kita jauh lebih buruk dari yang orang sangkakan bukan? hanya saja Allah masih sayang sama kita… Allah masih menutupi kehinaan kita tersebut.. Dan kita juga tak perlu menghinakan orang lain dengan kata-kata kita.. karena sebenarnya kita lebih hina… dan mungkin orang-orang tidak tahu..

Berbaiksangkalah kawan.. karena hanya dengan berpikir positif dan baik, maka mudha2an segala urusan kita dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’alaa…

Oleh: gusti | Desember 17, 2009

Lelaki yang gelisah

Cerita ini saya ambil dari sebuah buku kumpulan cerita hikmah.. hanya buat share dan renungan saja, monggo dinikmati..

Lelaki yang gelisah

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya.

Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya? Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal.

Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini,saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk. Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon.

Saya punya pikiran lain.

Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah? Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah.

Apa maksudnya?

Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya. Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah.

Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau duaminggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya.

Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan? Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu.

Isinya seperti ini:
“Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos.

Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu. Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat.

Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu. Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya? Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa.

Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi. Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan. Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet.

Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih. Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter.

Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini.

Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya. Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri.

Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan. Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.”
Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Oleh: gusti | Desember 17, 2009

Isabella’s Little Pink House

Gimana dengan rumah ini kawan??? yang suka melankolis pasti seneng banget ya.. gak mau keluar dari rumah.. atau kalo peri2 rumahnya dibawa karena takut hilang… xixixix… emangya keong!!..

Btw, nice house, really. Cuma mungkin merawatnya agak sudah, karena jika catnya pudar atau rusak.. maka cacatnya keliatan banget….

Ayyyoooooooooooooooo kita bikin yang kayak gini juga……:)))

Oleh: gusti | Desember 17, 2009

Indian Kerala Backwaters Kettuvallam (Rice Boat)

Indian Kerala Backwaters Kettuvallam (Rice Boat)

The Kerala backwaters are a chain of brackish lagoons and lakes lying parallel to the Arabian Sea coast (known as the Malabar Coast) of Kerala state in southern India. The network includes five large lakes linked by canals, both manmade and natural, fed by 38 rivers, and extending virtually half the length of Kerala state. The backwaters were formed by the action of waves and shore currents creating low barrier islands across the mouths of the many rivers flowing down from the Western Ghats range.

Kerala has over 900 km of interconnected waterways, rivers, lakes and inlets that make up the Kerala backwaters. In the midst of this beautiful landscape there are a number of towns and cities, which are the starting and end points of backwater cruises. National Waterway No. 3 from Kollam to Kottapuram, covers a distance of 205 km and runs almost parallel to the coast line of southern Kerala facilitating both cargo movement and backwater tourism.

The backwaters have a unique ecosystem – freshwater from the rivers meets the seawater from the Arabian Sea. In certain areas, such as the Vembanad Kayal, where a barrage has been built near Kumarakom, salt water from the sea is prevented from entering the deep inside, keeping the fresh water intact. Such fresh water is extensively used for irrigation purposes.

Many unique species of aquatic life including crabs, frogs and mudskippers, water birds such as terns, kingfishers, darters and cormorants, and animals such as otters and turtles live in and alongside the backwaters. Palm trees, pandanus shrubs, various leafy plants and bushes grow alongside the backwaters, providing a green hue to the surrounding landscape.

Vembanad Kayal is the largest of the lakes, covering an area of 200 km², and bordered by Alappuzha (Alleppey), Kottayam, and Ernakulam districts. The port of Kochi (Cochin) is located at the lake’s outlet to the Arabian Sea. Alleppey, “Venice of the East”, has a large network of canals that meander through the town. Vembanad is India’s longest lake.

The houseboats in Kerala are huge, slow-moving, exotic barges used for leisure trips.

Keralan Rice Boats are a reworked model of Kettuvallams (in the Malayalam language, Kettu means “tied with ropes”, and vallam means “boat”), which, in earlier times, were used to carry rice and spices from Kuttanad to the Kochi port. Kerala houseboats were considered a convenient means of transportation. They have thatched roof covers over wooden hulls.

Boats in a variety of shapes and sizes have traditionally been the main means of transport of men and materials in the Kerala Backwaters since olden days. In particular, the house boats were used to ship rice and spices and other goods between Kuttanad and the Cochin port. It was a three-day affair in those days. A standard house boat, which could be about 100 feet long, can hold up to 30 tons, and that is as much as three big lorries can.

For the royalty these boats even became comfortable living quarters. It was the important mode of transportation in coastal Kerala just because of its accessibility to the most remote areas.

It took the vision and enterpreneurship of a couple of enterprising young men to refurbish one of these leviathans, hoisting on to it a wooden super-structure incorporating a huge bed room, a toilet, a kitchenette and an open balcony. The ancient houseboat with a modernized interior became a hot favourite with tourists.

As the houseboats glide over the Kerala backwaters at a leisurely pace, the sights are new, the sounds are new, and every sensation is new every passing moment. A cruise along the mirror-still lagoons, picture-book lakeside, palm-fringed canals and shimmering rivulets of `God’s Own Country’ is the most enchanting holidaying experience in the country. With a cruise along the palm-fringed waterways turning to be part and parcel of holidayers’ itinerary, the traditional kettuvallam has emerged as the mascot of Kerala Tourism

A houseboat is about 60 to 70 feet (about 18 to 21 meters) long and about 15 feet (about 5 m) wide at the middle. The hull which is made of hundreds of fine but heavy-duty planks of jack-wood is held together absolutely by coir knots (not a single nail is used). This framework is then coated with a caustic black resin extracted from boiled cashew kernels. And it lasts for generations. The roof is made of bamboo poles and palm leaves. The exterior of the boat is painted with protective coats of cashew nut oil.

The kettuvallam is motorised and is steered in deep waters by means of oars or a rudder. Long bamboo poles or ‘punts’ are used to propel in shadow areas. The crew of a kettuvallam comprises two oarsmen and a cook or chef. Fresh food, cooked in inimitable Kuttanadan style is the rage of the international tourists.

Basically the kettuvallam was originally designed to transport cargo and as such many design changes had to be made to make it a tourist vehicle. The height of the roof was increased to get sufficient headroom. A plank was laid all through the length to reduce the disadvantages of the curved shape of the hull for walking and comfortable seating. Windows and other openings were provided for light, airflow and view. The entrance is provided in the centre of the linear axis with a top hung panel.

More than 400 kettuvallams ply the backwaters. Alappuzha is the citadel of house boats. There are some 120 of them, well maintained and perfected as luxury liners there. The house boats have all the creature comforts of a good hotel: well-furnished bedrooms, modern hygienic toilets, cosy living rooms, a beautiful kitchen and in some cases even a balcony for angling.

Oleh: gusti | Desember 17, 2009

Sumba Traditional House – Komodo, Indonesia

Nyonyaku sayang…. mau gak tinggal disana???? jujur lho…
tapi.. ada hewan apa tuh… iiiihh takut… gak jadi bangun yang ini dah.. ganti2… xiixix :P

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.